Jumat, 26 Oktober 2012

Jual Beli


KATA PENGANTAR


Segala puja dan puji kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah  ini yang membahas tentang “ Jual Beli dalam Islam”.
            Penulisan makalah ini digunakan untuk memenuhi tugas Fiqh Muamalah. Dalam penulisan makalah penulis mengalami beberapa kesulitan, namun hal itu dapat diselesaikan karena bantuan dari pihak-pihak terkait. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Siti Hasanah,M.Ag selaku dosen Fiqh Muamalah yang telah memberi bimbingan dan pengarahan dalam pembuatan makalah ini, serta teman-teman yang telah memberi ide-ide dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan dari segi pembahasan maupun isi, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna perbaikan makalah kami selanjutnya. Semoga apa yang telah kami usahakan selama ini Allah SWT meridhoiNya. Amin …….


Semarang, 30 September 2011


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
                Sebagai makhluk social, manusia tidak lepas untuk berhubungan dengan orang lain dalam kerangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan manusia sangat beragam, sehingga terkadang secara pribadi ia tidak mampu untuk memenuhinya, dan harus berhubungan dengan orang lain. Hubungan antara satu manusia dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan, harus terdapat aturan yang menjelaskan hak dan kewajiban keduanya berdasarkan kesepakatan. Hubungan ini merupakah fitrah yang sudah ditakdirkan oleh Allah.  Islam sebagai agama yang komprehensif dan universal memberikan aturan yang cukup jelas  tentang implementasi jual beli dalam sehari-hari atau kaitannya mengenai jual beli.                                         
Dalam hal ini aktifitas jual beli tidak dapat terlepas dengan kehidupan kita yaitu memenuhi kebutuhan. Dalam pembahasan makalah penulis kali ini akan menjelaskan tentang definisi jual beli dalam islam secara umum. Maka dari itu, dalam makalah ini penulis akan mencoba untuk menguraikan mengenai berbagai hal yang terkait dengan jual beli .
B.     Rumusan masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian jual beli dalam islam?
2.      Apa landasan hokum jual beli?
3.      Apa saja hukum yang bersangkut-paut mengenai jual beli?
4.      Bagaimana aturan jual beli dan dalilnya?
5.      Apa sajakah rukun dan syarat sah jual beli?
6.      Apa saja klasifikasi jual beli?
7.      Apa saja macam-macam jual beli yang shahih?
8.      Apa saja khiyar yang dilakukan saat jual beli?
9.      Apa saja hikmah jual beli ?
10.  Apa saja hikmah khiyar ?


BAB II
PEMBAHASAN

1.      DEFINISI JUAL-BELI

Jual beli secara etimologis artinya: Menukar harta dengan harta.(1) Secara terminologis artinya: Transaksi penukaran selain dengan fasilitas dan kenikmatan. Sengaja diberi pengecualian “fasilitas” dan “kenikmatan”, agar tidak termasuk di dalamnya pe-nyewaan dan menikah.
(1) Jual beli adalah dua kata yang saling berlawanan Martina, namun masing-masing sering digunakan untuk arti kata yang lain secara bergantian. Oleh sebab itu, masing-masing dalam akad transaksi disebut sebagai pembeli dan penjual. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua orang yang berjual beli memiliki hak untuk menentukan pilihan, sebelum mereka berpindah dari lokasi jual beli.” Akan tetapi bila disebutkan secara umum, yang terbetik dalam hak adalah bahwa kata penjual diperuntukkan kepada orang yang mengeluarkan barang dagangan. Sementara pembeli adalah orang yang mengeluarkan bayaran. Penjual adalah yang mengeluarkan barang miliknya. Sementara pembeli adalah orang yang menjadikan barang itu miliknya dengan kompensasi pembayaran.
Sementara,pengertian Jual Beli atau dalam bahasa arabnya al-Bai’u
Al-Bai’u secara etimologi berarti al-Syira’ (Bahasa Arab) dua kalimat tersebut mempunyai dua arti yang berlawanan, yaitu, menjual atau membeli. Adapun jual beli ) al-Bai’u( secara ulama fikih sebagai berikut:
Wahbah al-Zuhail mencantumkan pengertian (al- Bai’u) dengan “Tukar menukar harta dengan harta atas dasar suka sama suka”. Ulama mazhab Hanafi mendefinisikan jual beli “Saling menukar sesuatu yang sama-sama disenangi”. Penulis Syarh Fath al-Qadr mendefinisikan: Jual beli adalah, tukar menukar harta dengan harta atas dasar saling merelakan.
Mazhab Maliki merumuskan jual beli dengan dua pengertian, yakni pengertian umum dan pengertian khusus. Pengertian umum maksudnya, meliputi semua macam transaksi tukar-menukar yang tidak terbatas dalam fasilitas. Sementara itu ulama mazhab Syafi’i  rumusan : “Jual beli adalah, tukar menukar harta dengan harta menurut cara yang khusus”.Ibn Qudãmah dari mazhab Hanbali  pengertian jual beli Saling menukar harta untuk memiliki dan dimiliki. 
1Jual beli menurut bahasa artinya “saling menukar”. Menurut istilah syara, jual beli ialah “menukar sesuatu barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu( aqad).” ( H. Sulaiman Rasyid, 1976:268).
Text Box: 1Drs. Abd. Rahman ghazaly dkk, Materi Pokok Fiqih II( Jakarta : 1996 ),hlm.427.
2 Drs. Abd. Rahman ghazaly dkk,Loc.cit.
            2Syaid Sabiq (h: 126) mendefinisikan: “pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan. Atau memindahkan milik denga ganti yang dapat dibenarkan.
Dari beberapa rumusan atau definisi ulama fikih di atas dapatlah disimpulkan bahwa jual beli menurut pengertian mereka adalah, tindakan tukar menukar sesuatu dengan sesuatu dengan cara-cara tertentu yang bertujuan untuk pemilikan, dan dilakukan tanpa ada paksaan.

2.LANDASAN HUKUM JUAL BELI
Al-Qur’an
Ada beberapa ayat al-Qur’an yang digunakan oleh ulama sebagai dasar  dibenarkannya praktek jual beli. Antara lain Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling makan harta antara kamu dengan cara yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang kamu saling suka sama suka. (Q.S. al-Nisa’ 29)
Yang demikian itu karena mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Tetapi Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
 (Q.S. al-Baqarah: 275 )

Al-Sunnah
Ada beberapa Sunnah qauliyah dan fi’liyah yang digunakan ulama untuk melegimitasi dibolehkannya jual beli, antara lain:
Dari Jumai’bin ‘umair, dari pamannya ra. Ia berkata: Nabi SAW pernah ditanya tentang sebaik-baik usaha mencari rizki. Beliau menjawab, jual beli yang mabrur dan hasil kerja tangan seseorang. (H.R. Ahmad )
Dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’bin Khadij dari kakeknya Rafi’ bin Khadij ra. Ia berkata: “Rasulullah SAW pernah ditanya, Wahai Rasulullah usaha mencari rezki yang mana yang paling baik? Beliau menjawab, pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur”. (H.R. Ahmad).
Ijma’ Ulama
Hampir dapat dipastikan bahwa tidak seorang ahli fikihpun yang menentang dibenarkannya praktek jual beli. Hanya saja mereka berselisih dalam hal hal tertentu, termasuk syarat-syarat jual beli, sifat jual beli itu sendiri dan lain lain yang berkenaan dengan jual beli. Dalam hal ini tentu dapat dimaklumi, karena bukan hanya dalam masalah jual beli saja mereka berbeda pendapat, bahkan  dalam semua permasalahan
 Islam perbedaan pendapat tersebut selalu ada.
Jual beli sudah biasa dilakukan oleh umat manusia secara turun temurun bahkan diberitakan bahwa banyak dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang mempunyai profesi sebagai pedagang, di antaranya, sahabat Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, Abdurrahan dan lain-lain.
Jual beli yang dilakukan oleh kaum muslimin terutama para sahabat Nabi SAW setelah beliau meninggal dunia, kemudian jual beli diteruskan oleh generasi berikutnya, cukuplah sebagai bukti bahwa adanya ijma’ ulama dibenarkannya muamalah jual beli.

2.    HUKUM – HUKUM YANG BERSANGKUT PAUT DENGAN JUAL BELI

a.      Mubah (halal). Ini adalah hokum asalnya.
Firman Allah QS. Al-baqarah : 275
Artinya : Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
b.      Wajib ; artinya jual beli itu menjadi wajib karena ada sebab lain, seperti apabila kebutuhan pokok manusia tidak dapat dipenuhi kecuali engan jalan jual beli.
c.       Sunnat ; seperti jual beli kepada sahabat atau family yang dikasihi dan kepada orang yang sangat memerlukan kepada barang itu.3
d.      Haram, yaitu jual beli yang secara tegas dilarang oleh islam, seperti jual beli arak, narkotika, bangkai, lemak bangkai, babi, berhala dan jual beli yang mengandung unsur kedzaliman, penipuan dan penindasan.
e.      Tidak sah, yakni jual beli yang kurang rukun atau syaratnya.
f.        Sah tetapi terlarang, Artinya jual beli itu sendiri sah, tetapi terlarang karena ada sebab lain yang menimbulkan adanya larangan itu, seperti menyakiti si Pembeli atau si Penjual atau orang lain, menyempitkan gerakan pasaran ( menghambat perekonomian ) atau merusak ketentraman umum. Contoh-contoh jual beli tersebut, antara lain :
a.       Membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari harga pasaran, sedangkan ia tidak begitu memerlukan barang itu, tetapi semata-mata supaya orang lain tidak dapat membeli barang itu.
b.      Membeli barang yang sudah dibeli atau sedang dalam penawaran orang lain.
c.       Membeli barang dengan harga yang sangat murah dari pada harga pasaran. Misal : menghadang penjual barang yang dating dari desa sebelum sampai ke pasar, kemudian barangnya dibeli dengan harga yang sangat murah dan para penjual itu tidak mengetahui harga pasar.
d.      Membeli barang untuk ditimbun agar pada suatu saat dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, sedangkan masyarakat sangat membutuhkan barang tersebut.
e.       Jual beli mengecoh ( penipuan ). Artinya dalam jual beli itu ada penipuan, seperti menjual barang yang tidak sesuai dengan contohnya ( contoh yang diperlihatkan kualitasnya baik, tetapi yang akan dijual kualitasnya tidak baik).
f.        Menjual sesuatu barang yang berguna, tetapi barang tersebut dijadikan alat maksiat oleh pembelinya.
Firman Allah QS. Al-Maidah : 2
Artinya : Hendaklah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat kebajikan dan taqwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat kejahatan dan permusuhan.
Text Box: 3Drs. Abd. Rahman Ghazaly dkk, Materi Pokok Fiqih II( Jakarta : 1996 ),hlm.428. 




3.      ATURAN JUAL BELI DAN DALILNYA
Agar jual beli itu sah dan berlangsung baik, sehingga tercipta ketertiban dan ketentraman umum, pihak penjual dan pembeli merasa puas dan senang, satu sama lain tidak ada yang merasa dirugikan dan kedua belah pihak terhindar dari kemungkinan timbulnya persengketan, maka islam telah menetapkan aturan-aturan jual beli itu.
Aturan tersebut pada garis besarnya menetapkan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penjual dan pembeli, barang yang diperjualbelikan dan tata cara yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh si penjual dan si pembeli. Dan tata cara yang paling penting ( mendasar ) dalam urusan jual beli itu ialah adanya kerelaan ( suka sama suka ) antara pihak penjual dan pembeli.
Firman Allah QS. An- Nisa : 29
Janganlah kamu makan harta yang ada di antara kamu dengan jalan batal, melainkan dengan jalan jual beli dengan suka sama suka.
Sabda Rasulullah SAW :
Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika dilakukan dengan suka sama suka. (Riwayat Ibnu Hibban).
4.    RUKUN DAN SYARAT  SAH  JUAL BELI
i.                     Rukun
Menurut para ulama ahli Fiqh , rukun jual beli ada tiga, yaitu :
a.       Penjual dan Pembeli
b.      Objek yang diperjualbelikan
c.       Ijab Qabul (transaksi) , yaitu penjual menyerahkan barang dan pembeli menerimanya setelah membayar dengan harga yang telah disepakati bersama.

ii.                   Syarat-syarat sah jual beli
1.      Syarat-syarat Penjual dan Pembeli :
1.      Berakal sehat, agar dia tidak terkecoh.Orang gila atau bodoh (cacat mental) tidak sah jual belinya, sebab ia di bawah kekuasaan walinya.
2.      Baligh ( dewasa )
Sabda Rasulullah SAW :
Bebas dari beban  bagi tiga orang, yaitu orang yang sedang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai sembuh dan anak-anak sampai ia baligh. (Riwarat Abu Daud dan Nasa-i).
3.      Atas dasar kemauan sendiri ( bukan paksaan oaring lain).
4.      Tidak mubazir ( pemboros ).
Firman Allah QS. Al- Isra : 26-27
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan….
                  b.Syarat-syarat barang yang diperjualbelikan :
1.      Barang itu milik sah si Penjual (barang yang bukan milik si Penjual tidak sah dijualbelikan ).
2.      Barang itu suci.
3.      Barang itu ada manfaatnya.
4.      Barang itu jelas dan dapat diserahterimakan.
5.      Kualitas barang itu jelas.
c. Mengenai Ijab qabul
Sebagian besar Ulama mewajibkan lafaz (ucapan)dan jab dan qabul itu. Mereka mewajibkan hal tersebut dengan dasar  pada pemahaman kata-kata sama suka “ ‘An turadhin” seperti dinyatakan oleh ayat dan hadits yang telah lalu. Di samping itu dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1)      Ucapan ijab dan qabul harus bersambung.
2)      Ada persesuaian antara ijab dan qabul . ijab yang tidak sesuai dengan qabul atau sebaliknya, maka akad jual belinya tidak sah.
3)      Ijab qabul tidak disangkut-pautkan dengan lain. Contoh : kata si penjual ~jika saya pergi , saya jual barang ini sekian. Atau kata si Pembeli ~saya terima (beli) barang ini dengan harga sekian , jikaa hujan turun.
4)      Ijab dan qabul tidak boleh memakai jangka waktu. Contoh : kata si Penjual , saya jual barang ini kepada saudara dengan harga sekian dalam waktu seminggu atau sebulan.
6.  KLASIFIKASI JUAL BELI
Jual beli diklasifikasikan dalam banyak pembagian dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Kami akan menyebutkan sebagian di antara pembagian tersebut:
1. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Objek Dagangan
Ditinjau dari sisi ini jual beli dibagi menjadi tiga jenis: Pertama: Jual beli umum, yaitu menukar uang dengan barang. Kedua: Jual beli ash-sharf atau Money Changer, yakni penukaran uang dengan uang. Ketiga: Jual beli muqayadhah atau barter. Yakni menukar barang dengan barang.
2. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Cara Standarisasi Harga
a). Jual beli Bargainal (Tawar-menawar). Yakni jual beli di mana penjual tidak memberitahukan modal barang yang dijualnya.
b). Jual beli amanah. Yakni jual beli di mana penjual mem-beritahukan harga modal jualannya. Dengan dasar jual beli ini, jenis jual beli tersebut terbagi lain menjadi tiga jenis lain:
·      Jual beli murabahah. Yakni jual beli dengan modal le hi-untungan yang diketahui.
·      Jual beli wadhi”ah. Yakni jual dengan harga di bawah modal dan jumlah kerugian yang diketahui.
·      Jual beli tauliyah. Yakni jual beli dengan menjual barang dalam harga modal, tanpa keuntungan dan kerugian.
Sebagian ahli fiqih menambahkan lagi jenis jual beli yaitu jual beli isyrak dan mustarsal. Isyrak adalah menjual sebagian barang dengan sebagian uang bayaran. Sedang jual beli mustarsal adalah jual beli dengan harga pasar. Mustarsil adalah orang lugu yang tidak mengerti harga dan tawar menawar.
c). Jual beli muzayadah (lelang). Yakni jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya, lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah pembayaran dari pembeli sebelumnya, lalu si penjual akan menjual dengan harga tertinggi dari para pembeli tersebut.
Kebalikannya disebut dengan jual beli munaqadhah (obral). Yakni si pembeli menawarkan diri untuk membeli barang dengan tertentu, lalu para penjual berlomba menawarkan dagang-annya, kemudian si pembeli akan membeli dengan harga ter-murah yang mereka tawarkan.
3. Pembagian Jual Beli Dilihat dari Cara Pembayaran
Ditinjau dari sisi ini, jual beli terbagi menjadi empat bagian:
·      Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran secara langsung.
·      Jual beli dengan pembayaran tertunda.
·      Jual beli dengan penyerahan barang tertunda.
·      Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran sama-sama tertunda.
7. MACAM-MACAM  JUAL BELI YANG SHAHIH
            Ditinjau dari segi benda yang dijadikan objek jual beli dapat dikemukakan pendapat Imam Taqiyuddin4  bahwa jual beli dibagi menjadi tiga bentuk :
“Jual beli itu ada tiga macam : 1. Jual beli yang kelihatan, 2. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji, 3. Jual beli benda yang tidak ada.”
1)      Jual beli yang kelihatan ,ialah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang yang diperjualbelikan ada di depan penjual dan pembeli. Hal ini lazim dilakukan masyarakat banyak dan boleh dilak
ukan.
2)      Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual beli salam( pesanan).
Menurut kebiasaan para pedagang,salam adalah untuk jual beli yang tidak tunai ( kontan), salam pada awalnya berarti meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya ialah perjanjian yang penyerahan barang-barangnya ditanggukan hingga masa tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.
Dalam salam berlaku semua syarat jual beli dan syarat-syarat tambahan sebagai berikut :
a.       Ketika melakukan akad salam, disebutkan sifat-sifatnya yang mungkin dijangkau oleh pembeli, baik berupa barang yang dapat ditakar, ditimbang maupun diukur.
b.      Dalam akad harus disebutkan segala sesuatu yang  mempertinggi dan memperendahkan harga barang itu.
c.       Barang yang akan diserahkan hendaknya barang-barang yang biasa didapatkan di pasar.
d.      Harga hendaknya dipegang di tempat akad berlangsung.
3)      Jual beli benda yang tidak ada serta tidak dapat  dilihat ialah jual beli yag dilarang oleh agama islam karena barangnya tidak tentu atau masih gelap sehingga dikhawatirkan barang tersebut diperoleh dari curian atau barang titipan yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak.
Ditinjau dari segi pelaku akad (subjek), jual beli terbagi menjadi tiga bagian : dengan lisan, dengan perantara, dan dengan perbuatan.5
Akad jual beli yang dilakukan dengan lisan adalah akad yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Bagi orang bisu diganti dengan isyarat karena isyarat merupakan pembawaan alami dalam menampakkan kehendak. Hal yang dipandang dalam akad adalah maksud atau hendak dan pengertian, bukan pembicaraan dan pernyataan.6



 





8. HIKMAH JUAL BELI
            Di antara hikmah jual beli :
a)      Bernilai sosial, yaitu membantu keperluan dan kebutuhan orang banyak, tolong-menolong dalam hidup bermasyaraka yang hal ini merupakan perintah Allah SWT.(QS. Al Maidah : 2)
b)      Melaksanakan jual beli dengan baik sesuai dengan tata cara yang telah diatur oleh islam.
c)      Jual beli merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan dan kehalalan barang yang kita makan .
d)      Jual beli merupakan salah satu cara untuk memberantas kemalasan ,pengangguran an kemiskinan.
e)      Berjual beli dengan jujur , benar ,sabar, ramah dan memberikan pelayanan yang memuaskan, akan mendapat banyak simpati orang, memperbanyak teman dan kenalanserta menjalin hubungan persahabatan.
f)        Pedagang yang jujur dan benar, nanti pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama-sama para Nabi , Siddiqin dan para Syuhada.

9. PENGERTIAN, MACAM, DALIL DAN HIKMAH KHIYAR
a. Pengertian
            Khiyar menurut bahasa artinya “memilih yang terbaik”. Menurut istilah Syara’, “penjual dan pembeli boleh memilih antara meneruskan atau mengurungkan jual belinya”.7
            Tujuan khiyar oleh Syara’ agar kedua orang berjual beli dapat memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian hari, karena masing-masing merasa tidak puas terhadap jual beli yang mereka lakukan.
b. Macam-macam Khiyar
Khiyar ada tiga macam :
1.      Khiyar Majlis, yaitu penjual dan pembeli boleh khiyar selama belum berpisah.
2.      Khiyar syarat, yaitu khiyar itu dijadikan syarat sewaktu dilakukan akad oleh keduanya/ salah satu dari keduanya.
3.      Khiyar ‘aib, yaitu si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya dan si penjual wajib menerimanya, apabila barang yang dibeli itu terdapat cacat.
c. Hikmah Khiyar
Di antara hikmah-hikmah khiyar itu adalah sebagai berikut :
§  Menghindarkan terjadinya penyesalan bagi kedua belah pihak( penjual dan Pembeli) atau salah satunya.
§  Memperkecil kemungkinan terjadinya penipuan dalam jual beli.
§  Mendidik para Penjual dan Pembeli supaya bersikap hati-hati, cermat dan teliti dalam melakukan jual beli.
§  Menumbuhkan sikap toleransi (tasamuh) antara penjual dan pembeli.

Text Box: 7Drs.Abd.Rahman Ghazaly, Materi Pokok Fiqih II(Jakarta:1996),hlm.437 - 440.
 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Dari uraian di bab pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Jual beli adalah penukaran barang dengan barang atau penukaran dengan uang antara si penjual dan si pembeli dengan cara tertentu yang telah disepakati (aqad ).
2.      Hukum jual beli pada asalnya adalah halal (mubah=boleh). Namun adakalanya menjadi wajib atau sunat, ada pula yang diharamkan ada pula yang sah tetapi terlarang.
3.      Aturan yang paling mendasar dalam urusan jual beli ialah adanya kerelaan (suka sama suka) dari pihak penjual dan pembeli.
4.      Rukun jual beli ada tiga, yaitu :
a.    Penjual dan pembeli
b.    Benda (barang) yang diperjualbelikan
c.    Ijab,ialah perkataan penjual dan Qabul,ialah perkataan pembeli.
5.   Syarat-syarat sah jual beli :
a.  Syarat-syarat penjual dan pembeli
-  Berakal sehat
-  Baligh
-  Atas dasar kemauan sendiri
-  Tidak Pemboros
b. Syarat-syarat barang yang diperjualbelikan
- Milik si penjual,atau milik yang diwakilnya, atau milik yang menguasakan.
- Suci (tidak najis)
- Ada manfaatnya
- Keadaan barang itu dapat diserahterimakan.
c. Menurut ulama yang mewajibkan lafadz dalam ijab dan qabul, syarat-syarat adalah
- Perkataan ijab dan qabul harus bersambung.
- Ada persesuaian antara ijab dan qabul.
- Ijab dan Qabul tidak disangkutpautkan dengan yang lain.
- ijab dan qabul tidak boleh memakai jangka waktu.
6. Hikmah Jual beli :
                       i.   Bernilai social.
                     ii.   Menjalankan  yang dihalalkan Allah dan menjauhi yang diharamkan.
                    iii.   Merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan dan kehalalan barang yang kita makan.
                   iv.   Merupakan salah satu cara untuk memberantas kemalasan, pengangguran dan kemiskinan.
                     v.   Berjual beli dengan jujur, benar, sabar,ramah dan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan, akan banyak mendapat simpati orang memperbanyak teman dan kenalan, serta memperoleh tali persahabatan.
                   vi.   Pedagang yang jujur dan benar, pada hari kiamat nanti akan dikumpulkan bersama-sama dengan para nabi, Siddiqin dan Syuhada.
7. Khiyar, yaitu si penjual dan si pembeli boleh memilih antara meneruskan atau mengurungkan jual belinya.
8. Khiyar ada tiga macam :
-  Khiyar Majlis, boleh memilih selama penjual dan pembeli masih tetap di tempat jualbelikan.
- Khiyar Syarat,khiyar itu dijadikan syarat sewaktu dilakukan akad oleh penjual dan pembeli atau oleh salah satunya. Masa khiyar syarat paling lama hanya tiga hari tiga malam.
9. Hikmah diadakannya khiyar :
-          Menghindarkan terjadinya penyesalan bagi penjual dan pembeli atau salah satunya.
-          Memperkecil kemungkinan terjadinya penipuan dalam jual beli.
-          Mendidik pada penjual dan pembeli agar dalam berjual beli bersikap hati-hati, cermat dan teliti.
-          Menumbuhkan sikap toleransi (tasamuh) terhadap sesame manusia, terutama antara penjual dan peembeli.
B. Saran
            Alhamdulillah telah berakhirnya pembuatan makalah dengan mengambil judul “jual beli dalam islam” ini dapat bermanfaat dan berguna di kemudian hari untuk diambil pelajaran akan arti pentingnya aspek ekonomi khususnya aktifitas jual beli. Namun apabila ada kesalahan dalam penulisan dan pemilihan kata ataupun lain sebagainya dimohon perbaikan dari pembaca mengenai isi makalah ini khususnya dan bentuk tapilan makalah secara umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ghazaly,Drs. Abd. Rahman dkk.1996.Materi Pokok FIQIH II.Jakarta : Departemen Agama.
Suhendi, Hendi.2007. Fiqh Muamalah.Jakarta : Rajawali Pers.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar